Jakarta Pindah ke Palangkaraya
Sebenarnya hal ini bukan berita baru lagi. Tentang rencana Presiden SBY memindah Ibukota Jakarta ke Palangkaraya. Jauh sebelum itu Presiden pertama Indonesia Bung Karno pernah merencanakan agar Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia pindah ke Palangkaraya, sebuah kota di Kalimantan Tengah. Alasannya sederhana, letak Palangkaraya sangat strategis persis di tengah-tengah Indonesia antara Sabang sampai Merauke.
Kisah sejarah ini dimulai pada tahun 1950-an, ketika Presiden Soekarno merencanakan perpindahan Ibu Kota. Jalan yang rata dan tahan lama hingga tahun 2009 ini, segera dibangun. Insinyur jempolan negara besar komunis ketika itu dikerahkan. Pemindahan ini banyak memilik tafsiran, selain Jakarta yang gemar banjir, terlalu padat, dan tidak memilik hasil tambang, juga karena faktor politis, seperti letak Palangkaraya yang terlihat ditengah-tengah kepulauan Indonesia, dan mungkin rencana Soekarno dalam memobilisasi rakyat jauh lebih dekat dan kuat untuk agresi ke Malaysia (ingat slogan Ganyang Malaysia!?). Namun, gagasan Soekarno ini kemudian hilang begitu saja karena krisis politik dan ekonomi yang menghempaskannya, baik itu konsentrasi terhadap proyeknya ini, ataupun pertempuran politik dengan lawannya, baik itu golongan Islam, Tentara, maupun Amerika berserta agennya yang kerap kali menyusup.
Sangat sulit memang membayangkan, ibukota negara di pindahkan ke lain kota. Tak dapat dibayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan. Berapa banyak perwakilan negara harus dipindahkan..belum lagi kantor-kantor pusat yang begitu banyak tersebar seantero Jakarta.
Namun, tak ada salahnya usulan yang terlihat ekstrim itu dipertimbangkan. Sebab program transmigrasi ternyata tak cukup mampu memperlambat laju urbanisasi dari daerah ke Jakarta. Percuma rasanya, pemerintah DKI Jakarta melakukan razia KTP pada para pendatang baru. Dimana ada gula di situ ada semut. Jadi kalau mau mengusir semut ke tempat lain, seharusnya kita pindahkan letak gulanya…begitu pemikiran mudahnya.
Sementara di lain sisi, kita juga tidak dapat menihilkan, berapa sentimeter permukaan Jakarta tenggelam tiap tahunnya. Tidak sekedar akibat dibangunnya gedung-gedung pencakar langit, dan digalinya tanah untuk mencari sumber air artetis tapi juga akibat menumpuknya penduduk, mobil, kendaraan….wajar bila pemeintah DKI Jakarta selalu gagal dalam mengatasi bencana banjir.
Luas wilayah kota Palangkaraya yang ditunjang dengan potensi sumber daya alam yang tinggi serta hutan yang lebat, memberikan peluang untuk dijadikan hutan kota yang melindungi udara dari polusi dan kerusakan lahan.
Minimal, untuk menghidupkan lampu, Kota Palangkaraya tidak perlu mengimpor batu bara dari pulau lain seperti halnya Jakarta yang harus mengimpor batubara dari Kalimantan. Untuk pelabuhan utama, kota Sampit siap untuk dikembangkan menjadi pelabuhan internasional. Jika ibukota negara pindah ke Palangkaraya, diharapkan pergerakan kemajuan Indonesia Timur dapat lebih berputar dengan cepat.
Sehebat apa pun konsep otonomi daerah dikembangkan dan dibangun, namun jika pada kenyataannya pembangunan masih bersifat sentralistik di Jawa, pembangunan untuk Indonesia bagian Timur akan tetap terseok-seok. Sebab Jakarta tak sekedar menjadi pusat pemerintahan, melainkan juga telah menjadi inti dari pergerakan ekonomi Indonesia.
UU Tata Ruang pun tak akan sanggup menjadi payung bagi pembenahan tata ruang bagi DKI Jakarta. Kemacetan akhirnya hanya akan menjadi derita yang tak berkesudahan bagi Jakarta. Kepadatan penduduk yang jauh melebihi ambang batas, pencemaran udara akibat polusi kendaraan bermotor, penderita Infeksi Saluran Pernafasan yang meningkat pesat tetap akan menjadi catatan yang makin melesat jumlahnya melebihi kecepatan deret hitung.
Jika itu terus berlanjut, berapa banyaknya jumlah polisi pun disebar tetap tidak akan sanggup menumpas preman yang akan terus tumbuh seiring dengan bertambahnya jumlah pengangguran yang kelaparan.
Selain itu perlu diingat bahwa Pulau Sumatar, Jawa dan Sulawesi merupaka jalur gempa, tidak seperti di Kalimantan yang bebas dari gempa. Gunung krakatau juga merupakan ancaman lain untuk Jakarta, seperti kita tahuh bahwa Gunung Krakatau pernah meletus dengan sangat hebat. Bahkan geteran gempa terasa hingga Astralian dan Tsunami besar yang menewaskan ribuan orang, dimungkinkan hal serupa akan terulang kembali. Bagaimana jika Jakarta terkena gempa dan Tsunami? Akan sangat berbahaya jika sebuah Ibukota lumpuh karena bencana alam.
Sumber : Anggit Herdian, Tokoh Indonesia, Sucipto Ardi, Indo Top List dan Kompasiana

bagus itu.. pindahkan aja
Setuju……………
memang harus pindah.
tapi kalo dipalangkaraya jauh banget kl dari jawa
Yang penting aman dari gempa… ingat ramalan Jaya Baya gak?? Klo suatu saat pulau Jawa akan terbelah menjadi dua…he…
Mantab…
Biar pembangunan merata,
di seluruh indonesia
pindah purbalingga bae..
Masih dipulau jawa tu… Masih rawan gempa…!!!
Biaya pemindahannya brapa Trilyun tuh…
Gak tau juga… masih rencana kok…!!! Coba tanya pak presiden…!!!
yang jelas jangan pindahin ke jogja
Lo kenapa emang???
Yang penting jauh dari bencana. Koplak!!! Jawa kan jalur gempa. Kawa manapun tetap aja bisa kena gempa.
Yang penting jauh dari bencana. Koplak!!! Jawa kan jalur gempa. pindah ke manapun tetap aja bisa kena gempa.
palangkaraya tu kalimantan…!!! ???
Lha jadi pindah ke Palangkaraya….bukannya DPR mau membangun gedung DPR seharga 1,7 Triliun di Jakarta…..ntar nggak terpakai dong gedung mahalnya
Wah iya tu… Pemborosan banget…!!!